Hidup dengan ketaatan dibawah otoritas Tuhan

Hidup dengan ketaatan
Hidup dengan ketaatan dibawah otoritas Tuhan - Mazmur 28 adalah salah satu doa Daud yang meminta tolong Tuhan untuk melewati saat-saat sulit didalam hidupnya. Namun kemudian Mazmur 28 ini diakhiri dengan pengucapan syukur dari Daud karena pertolongan dan penyertaan Tuhan atasnya. Melalui Mazmur Daud ini, kita gereja Tuhan bisa belajar bagaimana Daud, sekalipun harus berjalan melewati banyak kesulitan, namun tangan Tuhan terus-menerus menolong dan menyertainya. Apa yang Daud lakukan? Bagaimana kuasa Tuhan bisa bekerja didalam hidup Daud secara luar biasa seperti itu? Kenapa bagi orang lain seakan-akan Tuhan pilih kasih, Betulkah Tuhan pilih kasih? Tuhan adalah Tuhan bagi semua, tentu Dia tidak pilih kasih seperti manusia, tapi apa rahasia penyertaan Tuhan didalam hidup Daud? Perhatikan ayat Mazmur 28:9 sekali lagi, "..Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya." Daud memahami bahwa dia adalah milik Tuhan sendiri. Daud juga rela dan membiarkan dirinya digembalakan, itulah 2 rahasia hidup Daud.

Milik siapakah dirimu? Apakah engkau beranggapan bahwa dirimu adalah milikmu sendiri? Atau lebih bahaya lagi, apakah dirimu milik orang banyak, keadaan yang persis seperti hidup seorang pelacur. Bagi setiap orang percaya, sadarkah sungguh bahwa kita adalah milik Tuhan sendiri? Bagi manusia yang banyak kekurangan, ada satu pribadi yang disebut 'milik saya sendiri', yaitu  istri. Seorang istri  tidak perlu meminta-minta kepada suami, sebab semua yang ada pada suami itu adalah milik sang istri  juga. Istri bisa melakukan apapun dengan membelanjakan semua yang ada pada mereka jika dia mau, sebab sang suami adalah miliknya dan dia adalah milik sang suami sendiri. itulah hubungan terintim dan terindah yang Daud mengerti dan miliki antara dirinya dengan Tuhan penciptanya. Pemahaman akan hubungan yang begitu dekat antara Daud dan Tuhannya telah membuat dia hidup tenang sekalipun harus melalui bahaya, sebab dia sadar, pemilik hidupnya tidak akan membiarkan hidupnya hancur sia-sia. Daud sadar akan arti hidup dengan ketaatan dibawah otoritas Tuhan

Hidup dengan ketaatan di bawah otoritas Tuhan
Daud tidak berhenti untuk sekedar sadar bahwa dia adalah milik Tuhan sendiri, tapi Daud juga bersedia dan rela untuk digembalakan, itulah sebabnya dia didukung Tuhan untuk selama-lamanya. Mengertikah saudara arti kata 'digembalakan'? Ada sekian banyak jemaat yang menyebut dirinya jemaat salah satu gereja lokal, namun jika mau jujur berkata, hanya sedikit yang benar-benar rela untuk hidup digembalakan oleh TUHAN melalui penggembalaan yang ada. Coba saudara jujur kepada dirimu sendiri dihadapan Tuhan , adakah saya benar benar termaksud orang-orang yang rela digembalakan oleh Tuhan melalui hamba-Nya? Adakah saya mengikuti dan sunguh-sunguh berusaha untuk taat digembalakan? Ada yang mungkin berkata, oh terhadap Tuhan saja saya taat, tapi terhadap manusia saya tidak bisa taat. Mungkinkah hal itu benar, atau isu sekedar pernyataan pembelaan diri sendiri? Belajarlah untuk hidup dengan ketaatan dibawah otoritas yang Tuhan tempatkan diatas hidup kita, sebab itulah cara yang benar yang Firman Tuhan ajarkan. Have a nice day^^

Rencana Tuhan Tidak Pernah Gagal


Tidak pernah gagal
Rencana Tuhan tidak pernah gagal - Setelah melewati proses jatuh bangun yang menyempurnakan karakternya, Ayub disadarkan akan satu kebenaran dari hakekat Tuhan, Ayub sendiri menyatakan didalam pengakuannya dihadapan Tuhan : " Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal..." Memang sesungguhnya Ayub tidak tiba-tiba sadar akan hal itu, pada awal ketika Tuhan mengizinkan Ayub masuk kedalam berbagai bagai tekanan dan penderitaan, dari mulutnya sendiri, Ayub mengeluhkan: "...Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan? Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu? Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?..." Ayub 3:11-12, 16 Namun pada akhirnya Ayub memahami bahwa Tuhan itu tidak pernah gagal dan tidak pernah salah. Dia tetap memegang kendali akan segala nya.
 

Beberapa waktu yang lalu, jalan sekitar jembatan semanggi di Jakarta sangat semrawut dan kotor, sehingga kemacetan di sekitar itu menjadi tidak dapat terhindar lagi. Satu ketika, saat saya melewati wilayah tersebut bersama seorang teman yang adalah bagian dari tim arsitek yang merancang pembangunan jembatan layang tersebut, berbeda dengan saya, dia seakan tidak terlalu terganggu dengan kemacetan dan kesemrawutan yang terjadi disitu , dia bahkan dengan semangat menjelaskan kepada saya nantinya akan menjadi seperti apa dan bagaimana alur kendaraan yang akan melewati wilayah semanggi. Apa yang membedakan sikap atau attitude saya dibandingkan dengan sikap teman saya? Kenapa teman saya bisa memiliki sikap yang sangat positif dan tenang menghadapi kemacetan dalam keadaan yang terlihat sangat berantakan, sedangkan saya tidak, dia tahu gambar wujud nantinya dengan jelas dan saya masih menerka-nerka. Itulah yang juga membedakan orang-orang yang kenal bahwa rencanan Tuhan tidak akan pernah gagal, dia akan tenang dalam kemelut dan bahaya sekalipun.
 

Ketika kita menghadapi kenyataan hidup yang sangat berat dan beban yang menindih, Ingat satu perkara semua pahlawan imam sebelum kita juga telah melewati jalan padang gurun tersebut. Pada akhirnya, semua beban dan permasalahan yang mereka hadapi itu berangsur angsur menjadi sirna dan rencana mulia Tuhan digenapi didalam proses hidup mereka, itulah yang menjadi penghiburan bagi kita anak-anak Tuhan yang percaya kepada-Nya. Melewati lembah yang kelam sekalipun, engkau tidak akan berjalan sendirian, pernyertaan Tuhan akan mengiringi setiap langkah orang percaya. Tuhan merasakan dan memahami persoalan yang kita hadapi, bahkan Dia mengijinkan semua itu terjadi, namun hanya sebatas yang tidak melebihi kekuataanmu. Firman Tuhan menyatakan "... Percobaan-percobaan yang kamu alami ialah percobaan-percobaan biasa, yang tidak melebihi kekuataan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuataanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menampungnya." (1 Korintus 10:13).

Rencana Tuhan tidak pernah gagal
Serentetan pahlawan iman telah mengalami peristiwa yang sama, dimana janji Tuhan yang telah mereka terima tidak semakin nyata hari berganti hari, tapi justru semakin tidak jelas dan bahkan menjadi tidak lagi masuk akal... Kitab Roma menegaskan: "...Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan..." Abraham melewati masa dimana sudah tidak masuk akal lagi untuk berharap, sebab secara fisik dan akal sehat rahim istrinya sudah tertutup, sudah bukan hanya mandul, tapi sudah mati haid. Tapi sekali lagi Tuhan tidak pernah gagal. Dalam proses hidup Ayub pun sama, Ayub tidak mengerti mengapa semua itu terjadi, tapi Ayub sadar bahwa Tuhan tidak pernah salah dan rencana-Nya tidak pernah gagal. Bertekunlah pada saat engkau belum melihat penggenapan janji Tuhan didalam hidupmu...

Apakah Dukacitamu Adalah Dukacita Sorgawi? atau Duniawi?

dukacita sorgawi
Dukacita Sorgawi atau Dukacita Duniawi? - Keterbatasan kata-kata membuat kita sering keliru mengartikan satu kata atau melukiskan satu keadaan dengan kata-kata tertentu. Sebagai satu contoh, coba perhatikan Yesus sebagai salah satu dari kotbah-Nya di bukit: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Mat 5:4). Bagaimana dapat dikatakan berbahagia mereka yang berdukacita? Sebab semestinya seseorang berdukacita karena ada malapetaka atau kesakitan yang menimpa dirinya atau orang-orang yang dikasihinya. Yesus mengatakan bahwa mereka berbahagia sebab mereka akan dihiburkan. Tapi apakah berarti semua yang berdukacita akan menerima penghiburan? Tidak demikian, justru disinilah letak keterbatasan pemahaman kata 'dukacita' yang melukiskan semua pemahaman tentang hati yang sedih, tidak perduli apapun alasannya, padahal yang Tuhan maksudkan disini adalah dukacita yang menurut kehendak Allah, Godly sorrow.

          Jika kita memperhatikan ayat di 2 Korintus 7, kita akan dibuat mengerti bahwa penyesalan belum tentu mendatangkan pertobatan. Ada begitu banyak penjahat didalam penjara yang menyesal ketika hukuman dijatuhkan dan mereka dijebloskan ke dalam penjara, tidak sedikit bahkan dari mereka yang menangis. betulkah tangisan penyesalan tersebut membuahkan pertobatan? Waktu akan membuktikan, sebab tidak sedikit yang bolak balik keluar masuk penjara atau jatuh lagi kedalam dosa yang itu itu lagi tanpa terlihat adanya buah pertobatan sama sekali. Apa yang membuat yang satu menyesal dan menangis sehingga membuahkan pertobatan, yang lain menyesal dan menangis juga tapi membuahkan dosa yang menjadi biasa? Bedanya ada pada bentuk atau alasan dukacita mereka, apakah itu dukacita yang menurut kehendak Allah (Godly sorrow), atau dukacita duniawi (wordly sorrow).
   
          Ada 2 murid Yesus yang sama-sama telah berdoa dan telah sama-sama mengkhianati Tuhannya, Yudas Iskariot dan Petrus bin Yunus. Dua-duanya juga sangat menyesal dan sedih hatinya, coba perhatikan catatan Alkitab ini: Matius 27:3 "... Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada iman-iman keala dan tua-tua,..." Kemudian tentang Petrus demikian: Lukas 22:61-62 "... Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." Lalu ia pergi ke luar dan menangislah dengan sedihnya..." Tapi kenapa Yudas mengakhiri penyesalan dan ke sedihannya dengan bunuh diri, sedangkan Petrus mengakhiri penyesalan dan kesedihannya dengan pertobatan? Sebab Yudas dipenuhi dukacita duniawi (Wordly sorrow) yang berpusat kepada dirinya sendiri, rasa malu akan perbuatannya dan menyesali dampak kepada Tuhan, perasaan Tuhan, yang berpikir kan adalah dia telah melukai hatinya Tuhan.

            Jadi sekarang jelas perbedaan yang sangat nyata antara dukacita duniawi dan dukacita sorgawi, perbedaannya terletak pada untuk kepentingan siapakah kita berduka? Pada umumnya manusia berduka untuk kepentingan dirinya sendiri, karena dia dipermalukan atau dirugikan, atau karena dia telah kehilangan sesuatu yang berharga baginya, atau karena dia bersedih karena nama baiknya  atau masa depannya akan hancur. Itulah dukacita yang pada umumnya kita temukan di hidup ini. Dukacita yang demikian tidak akan membawa kepada pertobatan , sebab fokusnya adalah diri sendiri, untuk kepentingan kita sendiri. Dukacita yang demikian hanyalah merupakan ungkapan prasaan yang mengasihi diri sendiri atau sekedar penyesalan akibat rasa sakit, bukan karena sadar telah melukai hati Tuhan. Dukacita Sorgawi, sebaliknya, adalah dukacita karena sadar bahwa kita telah mendukakan hati Tuhan, menangis karena hati kita merasakan detak kepedihan hati Tuhan yang hancur akibat perbuatan atau perkataan kita yang salah.

Dukacitamu Adalah Dukacita Sorgawi atau Duniawi?
          Ingat kisah orang muda yang kaya raya yang datang kepada Yesus untuk mencari jawaban tentang jalan kesempurnaan dan kehidupan yang kekal? Setelah mendengar jawaban Yesus, dia pergi dengan berduka hatinya begitu sedih (Matius 19), tapi dukacitanya itu didasari karena dia begitu cinta akan hartanya yang begitu banyak, bukan karena dia harus meninggalkan Yesus. Mari kita menguji hati kita sendiri, kapan terakhir kalinya engkau merasakan sungguh-sungguh berdukacita atau bersedih? kapan yang masih engkau ingat, dirimu merasakan dukacita yang begitu kuat, menangis sampai tidak bisa meneteskan air mata lagi? Tentang apa atau tentang siapa engkau berduka? Apakah seperti orang muda yang kaya di Matius 19, atau seperti Yesus yang menangisi kota Yerusalem, sebab Dia melihat kepentingan Bapa Surgawi,  melihat cinta Bapa. disinilah letak perbedaan cinta manusia dan cinta Tuhan. Jika saya mencintai seseorang wanita dan cita saya ditolak, saya akan besedih, sebab saya kehilangan sesuatu... Tuhan mencintai kita, dan jika kita menolak cinta-Nya, Dia akan bersedih, sebab kita kehilangan sesuatu. God bless you...

Firman Tuhan yang Setia dan yang Benar

Setia dan Benar
Ada beberapa nama atau sebutan yang ditulis didalam Alkitab tentang Tuhan, kitab Wahyu menjawab satu nama yang meneguhkan apa yang injil Yohanes 1 telah katakan, diayat 1 dan 14: "...Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,..." Kita tahu bahwa yang dimaksud dengan Firman yang telah menjadi manusia adalah Kristus sendiri, di Wahyu 19:13 lah, kita menemukan peneguhan itu sekali lagi, "...dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah". dua kesaksian meneguhkan siapakah Firman itu, Firman adalah Tuhan sendiri yang membayar dengan darahNya sendiri. Firman Allah itu tidak bisa dicegah dan dihalangi, tekanan dan kelaparan, kekurangan telah berkali-kali mencoba menahan Firman, tapi tidak satupun yang berhasil menahan-Nya, bahkan kematian pun tidak sanggup menahan Firman Allah, sebab Dia hidup dan bangkit dari kematian.

Jika Firman itu begitu berkuasa dan dapat dipercaya, bahkan lebih dahsyat lagi, Firman yang begitu berkuasa dan dapat dipercaya itu menawarkan DiriNya untuk masuk dan manunggal didalam diri manusia seperti kita, mengapa banyak yang menolak Firman itu? Saya temukan bahkan ada begitu banyak orang kristen yang didalam gereja sekalipun, namun hidup menolak Firman yang begitu berkuasa. Apa buktinya saya menolak Firman yang begitu luar biasa? Buktinya sederhana, jika saya tidak percaya kepada Firman itu, maka saya sedang menolak Firman dan bukti saya tidak percaya adalah saya tidak melakukan Firman apa adanya. Terlalu banyak orang kristen tidak menghidupi atau tidak melakukan Firman Tuhan secara utuh apa adanya, dengan cara itu sebenarnya mereka telah menolak dan menyangkal Firman Tuhan yang sudah mereka kenal. Hiduplah bijaksana agar kita tidak  menolak Firman Tuhan.
 

Alasan utama mengapa manusia sulit untuk percaya dan melakukan perkataan Firman Tuhan, sekalipun sadar bahwa itu adalah Tuhan sendiri, adalah karena kita meragukan apakah Firman itu berkata benar, atau bagaimana setelah kita lakukan, ternyata perkataan Firman itu membuat kita terjebak dalam kemerosotan atau kejatuhan yang fatal? Perhatikan ayat 11, nama lain dari Tuhan adalah "Yang Setia dan Yang Benar", Tuhan sendiri menyatakan  sifat atau karakterNya melalui namaNya, yaitu SETIA dan BENAR. Jika Dia menyatakan sesuatu lewat firmanNya, maka perkataan itu pasti benar, sebab karakterNya  yang terungkap dalam namaNya adalah BENAR!!! Dan jika Dia menyatakan atau memerintahkan kita lewat FirmanNya, maka pasti Dia akan membela FirmanNya sendiri, Dia akan selalu berpihak kepada FirmanNya sebab karakterNya adalah SETIA.

Jika Tuhan sampai menyebut DiriNya dengan nama "Yang Setia dan Benar", Mungkinkah ada kebohongan atau kesalahan padaNya? Mungkinkah Tuhan melakukan kekeliruan? Oleh sebab namaNya disebut yang SETIA, mungkinkah Dia meninggalkan kita saat  dimana kita paling membutuhkanNya? Mungkinkah Dia mengingkari janjiNya sendiri? Jika kita sadar bahwa tidak mungkin ada penghianatan dan ketidakadilan didalam Firman, masihkah kita akan meragukan Firman Tuhan? Tidakkah sepantasnya kita mulai membiasakan diri untuk melakukan semua kebenaran Firman Tuhan yang sudah kita baca, kita dengar, dan kita alami? dulu Tuhan pernah tolong kita kali ini? Mungkin dengan cara yang berbeda, tapi Dia tetap setia dan benar, Tuhan mu akan tetap menyertaimu.

Mengingat semua janji-janji Tuhan dan karakter Dia yang telah memberi janji itu setia, maka kebenaran itu telah memberikan kelegaan dan pengharapan bagi kita. Tuhan bukan hanya mampu mebuat janji, tapi Dia itu setia kepada janji janjiNya, kadang yang sering membuat manusia patah semangat adalah menantikan waktu penggenapan janji-janji Tuhan tersebut... belajarlah untuk bersabar dan bertekun dalam menantikan janji Tuhan, sebab dalam penantian tsb, maka karakter kitalah yang pertama-tama diubahkan dan disempurnakan. Kita akan diajar untuk berharap dan bersandar hanya kepada Tuhan sendiri, maka karya Tuhan akan semakin kuat, sebab seberapa jauh kita menyerahkan kendali hidup kita kepadaNya, sedemikian jauh juga Roh Kudus bekerja merubah dan mengarahkan hidup kita. Pegang janji-JanjiNya, sebab Dia yang berjanji itu namaNya SETIA. Have a blessed day....

Perkataan Bibir yang Mencerminkan Karakter


perkataan bibir
Hidup yang kudus adalah hidup yang dipisahkan, yang berjalan sesuai dengan rencana Tuhan sendiri, bukan berdasarkan apa yang dunia lakukan, jika anak-anak Tuhan rela untuk dituntun masuk kedalam hidup yang dikuduskan, maka kita harus rela untuk di ajar hidup tidak sama atau tidak serupa seperti yang dunia kerjakan. Cara berfikir yang berbeda, dengan terus melangkah seperti yang Kristus kerjakan. Dalam hal ini, pola pandang anak-anak Tuhan akan sangat-sangat berbeda. Satu contoh, dunia bahkan agama akan beranggapan bahwa kekudusan itu ditentukan oleh 'apa yang masuk ke dalam mulut', sebaliknya  Yesus mengajarkan dan menegaskan bahwa kekudusan itu ditentukan oleh 'apa yang keluar dari dalam mulut'. Dapatkah saudara melihat perbedaan yang sangat mendasar ini? Dunia dan agama mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, kapan harus makan apa dan bagaimana... semua itu dianggap akan membawa kekudusan bagi pribadi tsb, sekalipun semua itu baik, tapi itu tidak akan membawa pengudusan bagi hidup kita.

Pengudusan yang Tuhan kerjakan didalam diri orang percaya dimulai dari hati orang tsb, dari dalam kemudian tumpah atau termanifestasi keluar, bukan dari luar masuk kedalam. Namun perkataan atau buah bibir kita seharusnya akan menjadi satu barometer atau satu petunjuk yang akurat akan isi hati kita. Kitab Yakobus 3:2 mengatakan : "Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. " kesempurnaan satu pribadi ditunjukan oleh perkataan bibirnya. Kita mungkin saja bisa bersandiwara untuk sementara waktu atau untuk saat-saat tertentu, tapi kita tidak mungkin dapat bersandiwara selamanya. Satu kali, apa yang ada didalam hati kita, isi karakter kita akan tumpah melalui perkataan bibir kita, entah itu perkataan kotor atau najis, entah itu perkataan dolak dalik atau kebohongan, atau bahkan perkataan penyesatan atau fitnahan yang sangat jahat, itu hanyalah sekedar luapan dari dalam hati orang tersebut.

Agama dan dunia berusaha untuk mendatangkan 'rasa nyaman' tanpa pernah menangani masalah yang sesungguhnya. Ketika kita sakit, yang paling mudah adalah makan 'obat penghalang rasa nyeri atau pain killer', tapi apakah obat pain killer bisa mengobati rasa sakit sebenarnya? Justru kebalikannya, pain killer akan membuat tubuh menjadi tidak peka terhadap rasa sakit, dan bahkan akan menambah sakit penyakit lain kedalam tubuh kita. Ketika kita susah dan kehilangan damai sejahtera, dunia akan menawarkan serentetan hiburan yang akan membuat kita lupa untuk sementara waktu, namun akhirnya kita menjadi sangat tidak mampu untuk berdiri teguh dalam menghadapi masalah-masalah di hidup ini, bukankah itu yang narkoba, perjudian, pelacuran dan alkohol tawarkan? Apakah semua itu dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi? Sama sekali tidak!  Justru semua itu aka menambah beban dan masalah baru. Itulah bedanya solusi duniawi dengan solusi Firman Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan untuk menangani bagian dalam, isi karakter orang tersebut, kemudian setelah karakternya, manusia batiniahnya dipulihkan, maka aliran yang keluar dari padanya seperti perkataan, sikap, tindakan, dll, semua itu akan mencerminkan isi yang sesungguhnya.

Berjalanlah untuk berjalan didalam tuntunan rencana Tuhan yang ajaib, siap sedialah untuk selalu dengan rendah hati menerima Teguran Tuhan, ketika Tuhan tunjukan kepada kita betapa masih ada 'nada nada sumbang, kebohongan, atau mungkin bau busuk' yang keluar dari perkataan bibir kita. Jika kita mau selalu dengan jujur dan rendah hati melihat atau bercermin kepada diri kita sendiri, lalu membawa semua kekurangan-kekurangan tersebut dibawah kaki Tuhan, maka Tabib yang Ajaib itu mampu memberi kita hati yang baru, yang murni dan berkenan kepada-Nya, sehingga kita dapat dipakai untuk memuliakan nama Tuhan. Cara seperti ini adalah dengan mengajak dan meminta orang lain, sahabat, soul-mates untuk mengoreksi kita. Untuk menegur kita dengan jujur ketika mereka melihat dan menemukan perkataan sumbang dan bau busuk keluar dari bibir kita. Sebab seringkali kita tidak mampu mengoreksi diri kita sendiri, biarkan Tuhan dan orang lain yang mengoreksi kita maupun perkataan bibir kita.

Translate


Popular Posts

Powered by Blogger.